Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Manfaat Arak-Berem Dalam Upacara Hindu Di Bali Yang Belum Banyak Diketahui Orang, Berikut Penjelasanya

Manfaat Arak-Berem Dalam Upacara Hindu Di Bali Yang Belum Banyak Diketahui Orang, Berikut Penjelasanya 

Pict . Banjar bonjaka / ilustrasi

Bagi umat hindu di bali sudah tidak asing lagi yang namanya upacara keagamaan salah satunya upacara tetabuhan arak-berem .




Kenapa menggunakan Arak dan Berem? 




Kenapa tidak memakai yang lain? 




Kadang-kadang memakai simbol ini pun warga Hindu Bali banyak yang belum memahaminya, hanya ikut-ikutan saja. Berikut ini adalah sedikit penjelasan tentang maksud dan makna arak berem sebagai sarana pengastawa ke hadapan Sang Hyang Widhi.




Arak merupakan simbol dari aksara suci "Ah-kara", sedangkan berem adalah simbol dari aksara suci "Ang-kara". Hal ini terkai mantra pengastawa sehubungan dengan "Utpeti", "Stiti", dan "Pralina" dengan menggunakan dasar dari sastra Rwa Bhineda sebagai berikut :




Utpeti (Pengastawa/Ngajum/Puja)




Yang dimaksud dengan Utpeti adalah memohon kehadapan Sang Hyang Widhi agar Beliau berkenan kontak dengan manusia melalui manifestasi Nya sesuai dengan fungsi Nya, untuk menyaksikan persembahan dari pemuja Nya berdasarkan keyakinan dan kekuatan magis dari upacara Bija Mantra seperti "Ang... Ah". Dalam hal ngastawa mempergunakan sarana (simbul) maka kalau metabuh dalam tujuan ngastawa harus mengikuti urutan Berem (Ang) dahulu, kemudian dilanjutkan dengan Arak (Ah).




Stiti (Ngadegang)




Yang dimaksud adalah menstanakan Beliau, dalam imajinasi seolah-olah Beliau telah duduk pada stana Nya, telah siap menerima dan menyaksikan persembahan pemuja Nya.


Maka pada saat inilah kita melakukan persembahyangan kepada Sang Hyang Widhi Wasa beserta seluruh manifestasi Nya dengan memerciki Tirta Pangelukatan terlebih dahulu kemudian mempersembahkannya...




Pralina (Ngamantukang)




Pengertiannya adalah menghaturkan persembahan untuk memohon agar Beliau berkenan kembali ke Kahyangan (kembali pada keheningan Nya), karena acara persembahyangan pemuja Nya telah selesai. Dalam hal ini mempergunakan sarana maka kalau metabuh dalam tujuan pralina harus mengikuti urutan Arak (Ah) dahulu, kemudian dilanjutkan dengan Berem (Ang).




Begitu juga dalam menghaturkan "Segehan", letakkan segehan di posisi yang seharusnya, kemudian ngastawa (Berem-Arak), lalu "ketis" toyo ening, kemudian "ayab" dan terakhir pralina (Arak-Berem). Sehingga dalam mesegehan pun telah terlaksana Utpeti-Stiti-Pralina.

Semoga bermanfaat


Posting Komentar untuk "Manfaat Arak-Berem Dalam Upacara Hindu Di Bali Yang Belum Banyak Diketahui Orang, Berikut Penjelasanya "